Andai aku tersadai di pulau sepi sendirian,
Terkapai merangkak menghirup sisa kehidupan,
Setiakah engkau menanti kepulanganku yang tak pasti?
Sudikah engkau menghadap Kaa'bah sambil mencium bumi?
Meninggalkan hiruk-pikuk panggilan pekan duniawi?
Menangis berdoa agarku selamat dan masih bernadi?
Dan bagaikan ibunya Ismail (a.s), terlari-lari bersai,
Mencari sebahagian dirimu di dalam hatiku ini,
Melaksana sumpah setia yang termaktub bersama,
Bukan bulan bintang sahaja yang menjadi saksi,
Bahkan Allah (s.w.t), ibu-bapa, saudara-mara juga Tok Kadi
Bila tiba masanya untuk engkau berdiri berdikari,
Mampukah Srikandimu menyerlahkan sinaran?
Menyuluh pancar keberanian di lubang kegelitaan?
Merangkul cita-cita di hadapan panah cabaran,
Di padang pasir, sanggupkah engkau menanam benih harapan ?
Berbaja kesabaran, doa-doa dan segelumit keyakinan
______________________________________________
Renunglah mataku, wahai isteri,
Genggam erat tanganku, ya habibie,
Bolehkah api cinta kita tetap menyala, tiada dimamah usia ?
Tetap percaya kasih sejati luas semesta, tiada penghujungnya ?
Sayang, antara pergi dan pulangku,
Jagalah diri, maruah dan martabatmu,
Dan juga cahaya mata kita bersama,
Jika sayang berkelapangan masa,
Jenguk-jenguklah ke luar jendela,"Mana kekasihku belum kunjung tiba.."
Bagai Nabi Adam (a.s) dan Siti Hawa,
Di jabal Rahmah bertemu akhirnya,
Sambutlah kepulangan suami tercinta,
Dengan dakapan mesra di pintu syurga
macam ku pernah lihat... tapi di mana ya ? hehe...
ReplyDelete